Kacar-Kucur dalam Pernikahan Adat Jawa

Kacar-Kucur dalam Pernikahan Adat Jawa

Kacar Kucur adalah bagian adat dalam pengantin suku Jawa. Prosesi kacar-kucur ini, pengantin pria menumpahkan segala isi dari kantung atau wadah yang dibungkus dengan kain merah dengan pinggiran putih kepada wadah yang di pegang oleh pengantin perempuan.

Isi dari kantung tersebut merupakan hasil bumi seperti kacang kedelai, kacang tanah, gabah, padi, beras kuning, jagung, beberapa bumbu dapur, bunga sritaman, dan uang logam.

Hasil bumi berupa biji-bujian seperti beras, jagung dan kacang tanah sendiri merupakan bahan pokok. Untuk menciptakan sebuah keluarga perlulah kiranya ada jaminan kebutuhan pokok terlebih dahulu berupa beras.

Arti uang dalam prosesi ini adalah alat yang digunakan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Orang mencari uang kesana kemari adalah demi memenuhi kebutuhan hidupnya yang selalu berkembang dari waktu ke waktu. Dijaman sekarang kebutuhan seseorang berbeda dengan kebutuhan orang jaman dahulu. Manusia hidup cenderung konsumtif. Untuk mengatasinya perlulah kiranya dengan pengendalian nafsu.

Prosesi ini mengucurkan segala isi dari wadah tersebut adalah bentuk simbolik bagaimana seorang suami bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dengan memberikan nafkah atau penghasilannya kepada istri.

Lalu, si istri dengan selembar kain putih yang ditaruh diatas selembar tikar tua yang diletakkan diatas pangkuannya akan menerima dengan segenap hati. Yang maknanya adalah istri akan menjadi ibu rumah tangga yang baik dan berhati-hati menjaga pemberian sang suami.

Ritual Kacar kucur yang dilakukan dengan simbol-simbol ini, memang membangkitkan keseruan dalam sebuah acara pernikahan. Keseruan dan kecerian ini juga menampik anggapan bahwa pernikahan yang menggunakan ritual adat identik dengan acara yang kaku dan membosankan.